Jumat, 01 Mei 2009

you can visit this website

there are some website account to get scholarship and information about Tilburg University in DUTCH


http://www.tilburguniversity.nl/prospectivestudents/masters/
www.tilburguniversity.nl/prospectivestudents/masters/research

Mengenal Mental Bangsa Sendiri

Melihat kembali kehidupan nenek moyang kita bukanlah hal yang sia-sia, karena kita dapat belajar darinya. Kita bisa flash back pada kehidupan bangsa Indonesia (lebih tepatnya Hindia-Belanda jadi Indonesia) jauh sebelum Hindu-Buddha masuk ke Indonesia sampai sekarang. Kita dapat mengenal kehidupan-kehidupan dan karakter-karakter kehidupan itu melalui buku sejarah maupun cerita dari sejarahwan. Belajar dari pengalaman-pengalaman merupakan hal yang baik menurut orang bijak. Ada pepatah asing yang sangat terkenal l’histoir se repete, sejarah berulang kembali.
Tidak dapat kita pungkiri, keadaan zaman sekarang merupakan warisan dari zaman lalu yang akan sustain/berkesinambungan terus sampai bangsa kita ini benar-benar bangun dari tidurnya yang lelap. Maka dari itu kita harus bangkit dengan kesadaran serta mengubah paradigma kita selama ini dan mengambil langkah-langkah yang diperhitungkan dengan matang dan hati-hati terlebih dahulu, agar tidak ada lagi kita membuat kesalahan yang sama ataupun kesalahan baru potensial yang merugikan bangsa ini. bisa kita lihat kesalahan tersebut pada saat pemerintah kita menjual asset bangsa - asset Negara kita yang potensial, menjual sumber daya kepada luar negri sedangkan defisit dalam pemenuhan kebutuhan dalam negri dan lain sebagainya, apabila kita mau mengelolah sendiri, mungkin akan lebih baik buat perekonimian dan kesejahteraan rakyat kita.
Masalah-masalah mendasar yang masih dihadapi oleh bangsa kita ini adalah mengakarnya mental inlander (bangsa pelayan) baik dari feodalisme kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan lainnya maupun peninggalan penjajah bangsa ini, yang bentuknya selalu bertransformasi dari satu bentuk kebentuk lain mengikuti perkembangan zaman. Namun, kebanyakan dari kita tidak menyadarinya. Para pendahulu kita terpaksa menjadi buruh dan budak para penjajah dengan upah yang sangat minim, sekarang dalam hal pengelolaan asset, kita lebih suka menjual dari pada memproduksinya dan memakainya sendiri, dengan kata lain kita mau terima beresnya saja, mungkin kita merasa nyaman dengan penghisapan bangsa oleh bangsa (kapitalis).
Semakin dekatnya pemilihan anggota legislatif yang baru dan pemilihan umum Presiden yang baru, tentu kita sangat mengharapkan kepemimpinan yang baru, yang lebih mementingkan kepentingan rakyat. Kita tunggu saja janji yang diproklamasikan oleh para anggota yang terpilih, apakah ada perubahan yang signifikan? Apakah ada keberanian dari para anggota untuk lebih transparan dalam tindak tanduknya atas kepentingan rakyat? Apakah ada keberanian dari Senayan untuk benar-benar memberantas korupsi baik dari kelas teri sampai kelas kakap yang ada di Senayan sendiri ataupun di instansi pemerintah lainnya? Apakah ada keberanian untuk menjaga Tanah Air kita dari “penjajahan” seperti selat Ambalat, Timor Leste dan lainnya? Kita tunggu saja realisasi integritas mereka!! Apakah janji mereka hanyalah sebuah karangan atau utopis belaka!?
Bila kita mau menelusuri dan memahami perjuangan Founding Fathers kita, kita sepatutnya meneruskan perjuangan mereka dalam berbagai cara, usaha-usaha yang dapat kita lakukan adalah membangun bangsa kita dengan menulis, memberikan saran-saran kepada pemimpin kita, memberikan masukan-masukan kepada pembaca dan harapannya adalah kita bisa menjadi bangsa pemikir yang tidak mudah dibodohi lagi. Kita dapat mencontoh apa yang mereka lakukan sebagai anak Bangsa, mereka sangat mencintai dan memperjuangkan Tanah Air, kita semua tahu bagaimana perjuangan keras atas Papua, mereka menulis tentang pengetahuan-pengetahuan kepada masyarakat untuk melawan pemerintah Belanda dalam brosur-brosur dan surat kabar, mereka banyak membaca buku-buku yang berbobot, dan lainnya. Ada baiknya kita mendengarkan apa yang disarankan oleh Pramoedya Ananta Toer; “Didiklah masyarakat dengan organisasi dan didiklah pemerintah dengan perlawanan.”
Ketahuilah bahwa pengetahuan itu adalah perkakas untuk melawan perbudakan. Pengetahuan itu adalah kekuasaan, tidakkah kita ingat, Nusantara ini pernah dijajah karena pengetahuan yang sangat minim. Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri, apakah ini masih relevan, untuk dilakukan pada zaman sekarang?? Apakah lebih baik untuk membiarkan bangsa kita tetap terpuruk? Bagaimana generasi kita bisa menjadi lebih baik? Seberapa besar borosnya Nasionalisme dan Patriotisme kita?
Kita janganlah berkecil hati sebagai bangsa Asia, bangsa yang ada di bumi belahan timur dan berpikir bahwa bangsa lainlah yang paling hebat, yang paling baik. Matahari sampai saat ini masih terbit dari timur dan tenggelam di barat, ilmu pengetahuan tidaklah sedikit yang terbit dari Asia, contohnya saja Negara Iran yang dulunya mempunyai julukan “Ibu Ilmu Pengetahuan”, atau Founding Father kita sendiri yang sangat berpengaruh di dunia Internasional, dan Profesor termuda di Amerika adalah orang Indonesia. Memang perkembangan ilmu dari Timur ataupun dari Barat sendiri banyak dikembang di dunia belahan Barat, tapi kita bisa belajar dari itu untuk kemajuan bangsa kita sendiri dengan catatan kita tidak hanya mencontoh, melainkan dengan pengembangan pemikiran yang lebih relevan untuk kemajuan kita sendiri. Mari bersama kita bangkit dengan mengubah mental dan paradigma kita, dan hal yang terpenting adalah kita hilangkan pikiran sesat atau “mitos-mitos” yang dapat nenghambat perjuangan kita. Kita perlu juga memaknai kata yang dihaturkan oleh M. Hatta; Hanya satu Negri yang menjadi negriku, Ia tumbuh dari perbuatan dan perbuatan itu adalah usahaku.

Sabtu, 21 Maret 2009

“Belanda is the beutifull Country “



Jika kita mendengar nama Belanda, pasti nama itu sudah tidak asing lagi buat kita, karena Belanda adalah Negara yang notabenenya Negara yang pernah menjadi kawan sekaligus lawan bagi Negara kita, Indonesia. Kalau kita telusur lebih jauh nama Belanda sendiri berasal dari kata Koninkrijk der Nederlanden, secara harfiah berarti ”Kerajaan Tanah-Tanah Rendah”. Kata Belanda dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Portugis: Holanda- olanda- wolanda - bolanda - maka jadilah ”Belanda”.

Holland terletak pada titik di mana Jerman, Inggris dan Perancis bertemu budaya. Hal ini jelas sangat indah, dimana pertukaran budaya dan pengetahuan sangat cepat berkembang, secepat Anda menghidupkan televisi. Dengan begitu Belanda sendiri mendapatkan dampak eksternalitas dari proses akulturasi tersebut dalam hal perdagangan, pengayaan kebudayaan dan juga pengembangan ilmu pengetahuan. Dan pada akhirnya Belanda dikenal dengan negara yang kuat akan tradisi perdagangan dan bisnis internasional.
Belanda adalah Negara yang sangat indah dengan kota-kota yang bersih, indah dengan kincir air, dan sejuta Bunga Tulip serta dampak positif dari letak geografisnya. So tinggal di Belanda pasti akan menjadi hal yang sangat menyenangkan karena Berada di Belanda berarti berada di pintu masuk Eropa, sehingga keliling Eropa jadi hal bisa lebih cepat dan Nyaman. Tentu saja tempat yang satu ini harus jadi tempat yang tidak boleh tidak kita kunjungi seperti museum, tempat kita mempelajari tentang Belanda dan Indonesia dengan lebih dekat, Selamat bertualang di Eropa.




Sources;
Foto : by googling, key word is Holland
Bacaan : by googling, key word is Live in Holland
http://rizafahlevi.blogspot.com/2009/02/belajar-ke-belanda.html
www.eurogates.nl
www.ppibelanda.org

“Holland Is The Best Place To Prepare Your Future.”



Kalau kita berbicara tentang pendidikan, maka pembicaraan kita tidak jauh-jauh dari biaya yang akan kita keluarkan, apalagi di Negara tersebut berbahasa asli Inggris seperti Inggris dan Amerika. Tapi tenang saja, biaya pendidikan dan biaya hidup di Eropa sendiri relatif murah, seperti Belanda dan Jerman.
Kita bisa melihat sejarah, bahwa Belanda merupakan Negara yang sangat beruntung dan kuat, karena Belanda sendiri terletak di tempat yang strategis buat perdagangan, karena Belanda merupakan pintu masuk bagi kita untuk ke Eropa. Jadi wajar saja kalau perkembangan Belanda sangatlah cepat dalam teknologi maupun pengetahuan.
Foto disebelah kiri ini adalah salah satu foto Universitas di Belanda, bisa kita bayangkan bahagianya bisa kuliah di kampus yang semegah itu, kampus yang rapi serta perjalanan ke kampus yang pasti lebih menyenangkan dengan bersepeda.
Diperkirakan hampir 95% masyarakat Belanda berbahasa Inggris, dan universitas-universitasnya sendiri telah menawarkan program pendidikan dengan Bahasa Inggris sejak tahun 1950, sehingga perkuliahan serta kehidupan disana pasti jadi menyenangkan. Belajar program studi yang kita ingini sekaligus belajar bahasa Inggris secara praktis di Belanda pasti suatu kesempatan yang sangat baik terlebih dengan biaya yang tidak terlalu mahal karena adanya program-program bantuan beasiswa. Bantuan beasiswa sendiri dapat kita peroleh dari universitas bersangkutan, Erasmus Mundus, Dikti, NFP, Huygens and the Indonesia’s Muslim young leader programmed an lain sebagainya.
Sistem pendidikan di Belanda sangat berbeda dengan sistem pendidikan yang dikenal di Asia, Amerika, bahkan di sebagian besar wilayah Eropa. Di Eropa sendiri, sistem pendidikan ala Belanda hanya dikenal oleh beberapa negara, antara lain Jerman dan Swedia, inilah nilai tambah dari belajar di Negara bersangkutan. Salah satu perbedaan sistem pendidikan di Belanda adalah  penjurusan yang sudah dimulai sejak pendidikan di tingkat dasar dengan mempertimbangkan minat dan kemampuan akademis dari siswa yang bersangkutan serta seterfikasi yang telah diakui secara global. Ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang, kita bisa menggantinya dengan tak dekat maka tak kenal, maka dari itu kita perlu juga untuk mencari lebih jauh tentang Belanda, maka kita haruslah untuk antuasias dalam pencarian tersebut melalui dunia yang murah meriah—Internet.
Output atau hasil yang akan didapat dari belajar tetap tergantung pada manusia itu sendiri, karena system apapun hanyalah sebuah kumpulan sub-sub system yang saling berhubungan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diharapkan, sedangkan masyarakat merupakan bagian dari system tersebut. Dan perlu kita ingat bahwa penyelaman ilmu bukanlah suatu penyelaman di laut yang kering melainkan penyelaman di laut yang sangat dalam, karena penyelaman tersebut pada akhirnya tidaklah hanya untuk pemenuhuan kebutuhan sehari-hari atau seberapa besarnya kocek yang bisa kita habiskan untuk mengkonsumsi barang dan jasa, tapi lebih dari pada itu. Penyelaman ilmu itu sebenarnya harus didasari pada bakat, minat, hobi dan pemenuhan kebutuhan. Pendidikan di Belanda tampaknya telah memenuhi kriteria-kriteria tersebut dan tidaklah salah kalau belajar di Negri Belanda merupakan tiket untuk bersaing dengan komunitas global. Kesimpulannya adalah kuliah di Belanda berarti menempa diri menjadi kunci dalam berbaur dan berkompetisi dengan masyarakat global.


Sources;
Foto : by googling, key word is Holland
Bacaan : by googling, key word is Live in Holland
Neso Indonesia-Newsletter
www.ppibelanda.org
www.eurogates.nl