Melihat kembali kehidupan nenek moyang kita bukanlah hal yang sia-sia, karena kita dapat belajar darinya. Kita bisa flash back pada kehidupan bangsa Indonesia (lebih tepatnya Hindia-Belanda jadi Indonesia) jauh sebelum Hindu-Buddha masuk ke Indonesia sampai sekarang. Kita dapat mengenal kehidupan-kehidupan dan karakter-karakter kehidupan itu melalui buku sejarah maupun cerita dari sejarahwan. Belajar dari pengalaman-pengalaman merupakan hal yang baik menurut orang bijak. Ada pepatah asing yang sangat terkenal l’histoir se repete, sejarah berulang kembali.
Tidak dapat kita pungkiri, keadaan zaman sekarang merupakan warisan dari zaman lalu yang akan sustain/berkesinambungan terus sampai bangsa kita ini benar-benar bangun dari tidurnya yang lelap. Maka dari itu kita harus bangkit dengan kesadaran serta mengubah paradigma kita selama ini dan mengambil langkah-langkah yang diperhitungkan dengan matang dan hati-hati terlebih dahulu, agar tidak ada lagi kita membuat kesalahan yang sama ataupun kesalahan baru potensial yang merugikan bangsa ini. bisa kita lihat kesalahan tersebut pada saat pemerintah kita menjual asset bangsa - asset Negara kita yang potensial, menjual sumber daya kepada luar negri sedangkan defisit dalam pemenuhan kebutuhan dalam negri dan lain sebagainya, apabila kita mau mengelolah sendiri, mungkin akan lebih baik buat perekonimian dan kesejahteraan rakyat kita.
Masalah-masalah mendasar yang masih dihadapi oleh bangsa kita ini adalah mengakarnya mental inlander (bangsa pelayan) baik dari feodalisme kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan lainnya maupun peninggalan penjajah bangsa ini, yang bentuknya selalu bertransformasi dari satu bentuk kebentuk lain mengikuti perkembangan zaman. Namun, kebanyakan dari kita tidak menyadarinya. Para pendahulu kita terpaksa menjadi buruh dan budak para penjajah dengan upah yang sangat minim, sekarang dalam hal pengelolaan asset, kita lebih suka menjual dari pada memproduksinya dan memakainya sendiri, dengan kata lain kita mau terima beresnya saja, mungkin kita merasa nyaman dengan penghisapan bangsa oleh bangsa (kapitalis).
Semakin dekatnya pemilihan anggota legislatif yang baru dan pemilihan umum Presiden yang baru, tentu kita sangat mengharapkan kepemimpinan yang baru, yang lebih mementingkan kepentingan rakyat. Kita tunggu saja janji yang diproklamasikan oleh para anggota yang terpilih, apakah ada perubahan yang signifikan? Apakah ada keberanian dari para anggota untuk lebih transparan dalam tindak tanduknya atas kepentingan rakyat? Apakah ada keberanian dari Senayan untuk benar-benar memberantas korupsi baik dari kelas teri sampai kelas kakap yang ada di Senayan sendiri ataupun di instansi pemerintah lainnya? Apakah ada keberanian untuk menjaga Tanah Air kita dari “penjajahan” seperti selat Ambalat, Timor Leste dan lainnya? Kita tunggu saja realisasi integritas mereka!! Apakah janji mereka hanyalah sebuah karangan atau utopis belaka!?
Bila kita mau menelusuri dan memahami perjuangan Founding Fathers kita, kita sepatutnya meneruskan perjuangan mereka dalam berbagai cara, usaha-usaha yang dapat kita lakukan adalah membangun bangsa kita dengan menulis, memberikan saran-saran kepada pemimpin kita, memberikan masukan-masukan kepada pembaca dan harapannya adalah kita bisa menjadi bangsa pemikir yang tidak mudah dibodohi lagi. Kita dapat mencontoh apa yang mereka lakukan sebagai anak Bangsa, mereka sangat mencintai dan memperjuangkan Tanah Air, kita semua tahu bagaimana perjuangan keras atas Papua, mereka menulis tentang pengetahuan-pengetahuan kepada masyarakat untuk melawan pemerintah Belanda dalam brosur-brosur dan surat kabar, mereka banyak membaca buku-buku yang berbobot, dan lainnya. Ada baiknya kita mendengarkan apa yang disarankan oleh Pramoedya Ananta Toer; “Didiklah masyarakat dengan organisasi dan didiklah pemerintah dengan perlawanan.”
Ketahuilah bahwa pengetahuan itu adalah perkakas untuk melawan perbudakan. Pengetahuan itu adalah kekuasaan, tidakkah kita ingat, Nusantara ini pernah dijajah karena pengetahuan yang sangat minim. Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri, apakah ini masih relevan, untuk dilakukan pada zaman sekarang?? Apakah lebih baik untuk membiarkan bangsa kita tetap terpuruk? Bagaimana generasi kita bisa menjadi lebih baik? Seberapa besar borosnya Nasionalisme dan Patriotisme kita?
Kita janganlah berkecil hati sebagai bangsa Asia, bangsa yang ada di bumi belahan timur dan berpikir bahwa bangsa lainlah yang paling hebat, yang paling baik. Matahari sampai saat ini masih terbit dari timur dan tenggelam di barat, ilmu pengetahuan tidaklah sedikit yang terbit dari Asia, contohnya saja Negara Iran yang dulunya mempunyai julukan “Ibu Ilmu Pengetahuan”, atau Founding Father kita sendiri yang sangat berpengaruh di dunia Internasional, dan Profesor termuda di Amerika adalah orang Indonesia. Memang perkembangan ilmu dari Timur ataupun dari Barat sendiri banyak dikembang di dunia belahan Barat, tapi kita bisa belajar dari itu untuk kemajuan bangsa kita sendiri dengan catatan kita tidak hanya mencontoh, melainkan dengan pengembangan pemikiran yang lebih relevan untuk kemajuan kita sendiri. Mari bersama kita bangkit dengan mengubah mental dan paradigma kita, dan hal yang terpenting adalah kita hilangkan pikiran sesat atau “mitos-mitos” yang dapat nenghambat perjuangan kita. Kita perlu juga memaknai kata yang dihaturkan oleh M. Hatta; Hanya satu Negri yang menjadi negriku, Ia tumbuh dari perbuatan dan perbuatan itu adalah usahaku.
Jumat, 01 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar